Monday, February 22, 2016

Homesick Letter by Amm

SURAT RINDU

chillinaris.blogspot.com

Ibu. .
Waktu sungguh cepat berlalu. Setahun sudah kau pergi dan aku masih disini dengan rasa tidak percaya. Hal tersedih yang saat ini masih aku rasakan adalah aku selalu berpikir bahwa kau masih ada. Menungguku di rumah seperti biasanya, karena aku sering tidak ada di rumah. Hal yang membuat hatiku hancur adalah ketika aku sadar bahwa kau sudah pergi. Ketika aku sangat ingin memanggil namamu, kau tidak ada disana.


Ibu..

Aku sangat menyayangimu. Aku sangat mencintaimu sejak pertama kali aku menatap dunia ini. Dan rasa cinta itu tidak akan mungkin hilang sampai hari dimana aku pergi menyusulmu kelak. Kau tahu ibu? Aku memang tidak pernah mengatakan “aku mencintaimu ibu” secara langsung padamu. Dan itu adalah satu hal yang sangat aku sesalkan dalam hidupku. Tapi aku yakin, kau tahu itu. Kau sungguh tahu bhawa aku sangat mencintaimu.


Ibu..
Tepat setahun yang lalu dihari dimana kau pergi, aku tak pernah berhenti menangis. Dari pagi sampai malam hari hingga rasanya habis semua air mataku. Tolong jangan kataakan aku cengeng ibu. Aku memang cengeng ketika aku masih kecil. Tapi tidak sekarang. Aku menangis karena aku sedih melihatmu begitu kesakitan. Aku menangis karena aku sangat takut kau pergi meninggalkanku.

Ibu..
Sesaat setelah kau pergi hari itu, rasa sepi kian memuncak memenuhi hatiku. Meski banyak orang yang hadir disekelilingku, aku merasa sangat sepi. Aku sungguh kehilangan cahaya yang selalu menemaniku dikala pagi datang. Aku sungguh kehilangan cahaya yang selalu menerangi malamku yang begitu mencekam.

Ibu..
Setiap malam sebelum aku tidur, hanya engkau yang selalu aku pikirkan. Hanya wajahmu yang selalu hadir dibenakku. Tak jarang hal itu membuatku bersedih. “Aku hanya merindukanmu” itu yang selalu aku katakan pada diriku sendiri. Aku tidak ingin rasa sedihku itu membebanimu. Aku sudah benar-benar rela kau pergi. Aku hanya merindukanmu. Aku hanya rindu suaramu. Aku rindu caramu memanggil namaku.

Ibu..
Aku masih sangat membutuhkanmu. Meski usiaku kini sudah beranjak dewasa. Aku sangat membutuhkanmu. Tapi aku sangat sadar, tidak adil jika aku yang membutuhkanmu saat ini. Aku hanya berharap tiap doa yang aku panjatkan bisa sampai padamu dan memuliakanmu.

Ibu..
Aku selalu membayangkan aku bisa melihatmu menua dan tiba waktuku yang merawatmu. Aku selalu membayangkan bisa membuat sebuah istana untuk hari tuamu. Aku sangat sedih semua bayangan itu harus pergi bersama dengan kepergianmu. Aku hanya berharap doa yang selalu tercurah untukmu sampai kepadamu dan istana yang selalu aku bayangkan itu telah kau miliki disana.

Ibu..
Aku sangat senang telah menjadi puteramu. Seorang ibu yang tak pernah lelah untuk mengajarkan hal ihwal kehidupan. Ibu yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Aku akan sangat senang jika di kehidupanku yang selanjutnya aku bisa menjadi puteramu lagi.

Ibu..
Banyak hal berubah semenjak kau pergi. Tapi kenanganmu dan rasa cintaku padamu tidak akan pernah berubah. From the day i see the world, till the end of my day. I will always love you no matter what. No one can takes your place. You really mean the world to me.